Camilan Yang Uti Masih Terkendala Bahan Baku

camilan yang uti
camilan yang uti

Loveusaha Bagi mayoritas beberapa orang menikmati camilan atau keripik saat bersantai merupakan hal yang wajib dilakukan. Kalau kita lihat, camilan yang digemari oleh sebagian orang adalah berbagai macam jenis keripik dan kerupuk.

Terlepas dari rasanya yang gurih dan renyah, keripik juga menjadi camilan khas teman nonton tv dan membaca untuk sekedar goyang lidah. Sebagai menu wajib bagi sebagian orang, camilan ini dapat menjadi bisnis dan peluang usaha yang menjanjikan bagi Sri Wahyuni Setyawati. Berlabel usaha Camilan Yang Uti sebenarnya Yuni memulai bisnisnya dari bisnis Warnet.

“Sebenarnya bisnis saya ini dimulai tahun 2011 lalu saat saya punya warnet dan saat itu usaha warnet sedang sangat booming ya,” kenangnya.

“Saat itu warnet sangat rame dan saya coba-coba untuk membuat makanan camilan buat anak-anak pengunjung warnet dan ternyata mereka menyukainya hingga keterusan,” jelasnya.

Baca juga : https://www.loveusaha.com/berita/kecanduan-sabu-ini-tidak-akan-tertangkap-polisi/

Namun usaha warung internetnya harus gulung tikar ketika waktu itu sudah banyak teknologi baru yang dapat diakses via smartphone sehingga dirinya harus menutup usaha warnetnya.

Tepatnya tahun 2014 Yuni akhirnya memulai bisnis barunya sebagai pebisnis camilan dan dilabeli dengan nama Camilan Yang Uti.

“Pada akhirnya berkelanjutan warnet sepi pada tahun 2014 saya tekuni untuk produksi dan mengurus perizinan alhamdullah untuk izin halal sudah dapat dari Indag kab. Kota Ngawi, PIRT semua sudah komplit, produk tanpa PIRT yg penting laku dulu,” terang Yuni.

Saat ini Camilan Yang Uti memiliki berbagai jenis camilan seperti pangsit sayur, keripik Pare, keripik bonggol pisang, keripik Jamur kuping dan lain-lain.

Untuk membantu usahanya Yuni dibantu 3 orang karyawan untuk hari libur. Sementara untuk hari raya dirinya mencari tambahan karyawan untuk memenuhi proses produksi yang meningkat ketika lebaran.

Untuk pemasaran Camilan Yang Uti, Yuni memanfaatkan pemasaran online dan offline dengan pemasaran dari mulut ke mulut melalui teman dekat, tetangga dan relasi serta pemasaran online melalui instagram dan facebook.

Sementara untuk jangkauan pemasaran selain kabupaten dan kota Ngawi dan sekitarnya sudah menjangkau luar propinsi. Ditanya peningkatan omzet, menurut Yuni belum ada mengalami peningkatan yang signifikan namun menurutnya trend omzetnya cenderung mengalami kenaikan yang baik.

“Kalau ditanya omzet ya belum naik yang signifikan gitu cuma kalau trend kenaikannya ada dari tahun ke tahun,” lanjutnya.

Demi mendukung kelangsungan usahanya, Yuni kerap mengikuti undangan seminar dan pelatihan dari berbagai dinas terkait. Baik dalam hal pelatihan pemasaran dan keahlian.

“Sebenarnya bukan sering mengikuti seminar atau pelatihan ya lebih tepatnya kalau diundang saja.” kata Yuni.

Kini memasuki 5 tahun usaha Camilan Yang Uti, Yuni masih merasakan kendala bahan baku terutama di musim kemarau.

“Saya kan mengambil bahan baku langsung dari petani, terkadang agak sulit terutama di musim kemarau. Itupun harganya pasti melonjak padahal kan harga produk siap jual camilan yang kita buat tidak bisa dinaikkan begitu saja,” katanya.

Ditanya suka duka selama usaha Yuni menjawab ketika produksi tidak gagal dan berhasil dengan sempurna.

“Banyak orderan dan pada saat produksi tidak gagal adalah sukanya. Sedangkan dukanya adalah saat produk gagal dan ditolak bayar. Juga ketika stok produk banyak tapi pembeli sepi,” jelasnya saat mengakhiri pembicaraan siang itu. (da)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*