Cerita Haru Dibalik Sukses Kripik Sinar Jaya

kripik sinar jaya
Foto : Produk kripik Sinar Jaya

Loveusaha – Merintis usaha agar bisa menjadi besar memanglah tak mudah. Selalu saja ada banyak cobaan yang ikut menyertai dibelakangnya. Itulah yang selama ini dihadapi oleh seorang wanita muda bernama Musa’adatin.

The Power of kepepet akhirnya membuat ia mau tak mau harus membuka bisnis sampingan untuk menopang perekonomian keluarganya.

Ini ia lakukan karena suaminya yang awalnya bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah bank terpaksa harus dikeluarkan dari perusahaannya karena difitnah oleh rekan kerjanya.

Dan lebih parahnya saat itu Musa’adatin dalam posisi hamil empat bulan. Ia pun bingung hendak membuka bisnis apa.

Saat mertuanya datang berkunjung ke Malang, beliau membawakan oleh – oleh dari Bandung berupa makanan ringan pedas, seperti basreng, pikset, seblak, morling, gurilem, mie lidi, dan juga macaroni.

Bandung memang terkenal dengan jajanannya yang pedas. Nah dari situlah Musa’adatin memiliki ide untuk membuat produk makanan ringan pedas.

Akhirnya ia langsung membeli kripik dan bahan lainnya dan langsung dieksekusi. Musa’adatin membawanya ke sekolah sebagai tester.

Dan mereka suka dengan jajanan ini. Namun Musa’adatin harus memutar otak bagaimana ia bisa mendapatkan modal untuk usahanya ini agar hasilnya nanti bisa dibuat untuk biaya lahiran.

Allah memang maha kaya, orang tuanya akhirnya meminjami modal sebesar 500 ribu, dan akhirnya ia belikan 20 kg kripik.

Kripik itu ia jual di sekolah dengan harga 500, 1000, dan 2.000 an, dagangannya laris manis dan mampu membeli 30 kg kripik,

Namun sekarang Musa’adatin dibuat bingung, hendak ia jual kemana kripik sebanyak ini selain dijual di sekolah. Dan akhirnya ia dan suami memutuskan untuk  menitipkannya di toko atau warung di sekitar tempat tinggalnya.

Tak mudah memang, banyak dari mereka yang menolak dagangan ini. Saat itu hati Musa’adatin menangis, di saat usia kandungan yang sudah semakin tua, suaminya juga masih belum juga mendapatkan pekerjaan.

Akhirnya saat usia kandungan sudah 9 bulan ia dan suami mutuskan untuk pulang ke kampong halamannya di Lamongan.

Saat anaknya sudah berusia 3 bulan, Musa’adatin dan suaminya memutuskan untuk kembali ke Malang, dan melanjutkan usaha kripik pedasnya.

Akhirnya dari situ jalan mulai terbuka. Produk kripik milik Musa’adatin sudah mulai bisa diterima di masyarakat. Ia pun keluar dari pekerjaan lama di sekolah full day karena ingin focus mengurus anak dan menjalankan usahanya.

Musa’adatin memiliki  6 pegawai untuk mengurus usahanya ini. Awalnya produk Musa’adatin bernama CB (Cahaya Barokah) dan akhirnya sekarang berganti nama menjadi Sinar Jaya.

Musa’adatin berharap semoga Kripik Sinar Jaya bisa semakin berkembang sehingga mampu menjadi lapangan kerja bagi meteka yang masih menganggur. (ary)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*