Melestarikan Warisan Budaya Tradisional Malangan ke Dunia Internasional

Foto : Produk Dinara Wooden Heel

Loveusaha Sebagai kota budaya seklaigus kota kreatif yang kaya akan kearifan lokal, Dinara Wooden Heel hadir menjadi salah satu pemain sukses Industri Kecil Menengah (IKM) kerajinan khas sandal klompen batik tradisonal berbalut batik tutul malangan dan kain batik nusantara.

Berdiri sejak 2016 silam, dalam sebulan sedikitnya 4.000 pasang sepatu mampu diekspor ke luar negeri dengan harga bervariasi mulai Rp 40 ribu hingga Rp 175 ribu per pasang.

Dalam proses pembuatannya Dinara memanfaatkan kayu pinus, kayu sono dan kayu mahoni,  dimana rata-rata satu kubik kayu menghasilkan 10 kodi sepatu. “ Kayu Pinus lebih bagus, karena ringan dan berwarna putih. Sebenarnya permintaan masih cukup tinggi diatas produksi kami, ” terang Sri Andriani pemilik Dinara Wooden Heel

Dalam memproduksi sepasang sepatu diperlukan  balok glondong sepanjang satu hingga dua meter. Lalu, dibelah dengan tinggi 10 sentimeter, mengikuti diameter kayu. Setelah itu, dipotong berbentuk kotak-kotak sepanjang 25 sentimeter kemudian dipola sesuai pesanan atau keinginan.

Menurutnya ada empat model sepatu yang dibuat yang pertama berbentuk trepes yang dibagi menjadi trepes bedog dan trepes japet. Model kedua adalah wedges setinggi lima sentimeter, dimana wedges ini dibagi lagi menjadi empat bentuk modifikasi, yakni wedges bolong, wedges koakwedges bolong bundel, dan wedges full.

Model ketiga merupakan high heels setinggi tujuh sentimeter. Model terakhir adalah model bola. ”Model bola ini yang eksklusif. Prosesnya lebih rumit, karena bolanya buat sendiri dan harus presisi,” kata perempuan kelahiran Malang 13 Maret 1975 ini.

Bagian akhir dari pembuatan sepatu adalah proses finishing atau disebut klompen. Model sepatu yang sudah dibentuk itu diwarnai sesuai keinginan pembeli atau inovasi produk usaha.  

Ada yang dicat, dibakar, atau natural mengikuti warna asli kayu. Setelah itu sepatu dipernis dan dipola dengan batik tutul. Satu orang pelukis batik tutul bisa menghasilkan 10 pasang sepatu dalam satu hari. Selain batik tutul Sumberawan, ada pula motif paint brush dan deco. Langkah terakhir pembuatan sepatu adalah pemberian alas atau sol.

Karena sistem pembuatannya masih borongan pembuatan sepatu ini masih memerlukan biaya yang tinggi, karena belum ada pabrikan khusus. Meski demikian kami sudah bisa rutin setiap bulan mengirim ke salah satu toko oleh-oleh terbesar di Bali,” cerita Sri

Tak hanya di dalam negeri sepatu-sepatu produksinya sudah merambah pesanan ke keluar negeri seperti Australia, Jepang, dan Italia. Selain itu, sepatu-sepatunya didistribusikan ke Bandung, Batam, Padang, Samarinda, Balikpapan, Semarang, Blitar, Tulungagung, dan Banyuwangi.

Bersama 20 IKM Malang lainnya Dinara Wooden Heels juga pernah diundang Smesco Award di Jakarta dan diundang dalam Utusan Khusus Presiden RI untuk Timur Tengah dan OKI di Surabaya.

”Memfasilitasi ekspor dan dicarikan pasar ke Timur Tengah dan negara Islam lainnya,” terang dosen Akuntansi di UIN ini. Selanjutnya Dinara Collection akan segera membuka gerai sekaligus showroom di Gajayana No 50A bisnis center.

Saat ini penjualan dilakukan selain pesanan yang datang juga melalui pemasaran dan sosialisasi melalui sosial media seperti ig, wa, fb, marketplace, dan mouth to mouth juga pameran. Bagi  Anda yang berminat terhadap bisnis UKM DINARA INDOHASTA WOODEN HEELS ini bisa mengunjungi showroom di Jalan Tlogosuryo VI Nomor 76 A, RT 06 RW 02, Tlogomas, Malang. (dna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*