Sukses Erik Marsudi Utomo dengan Brand Ayam Bakar Pak “D”

erik marsudi utomo

erik marsudi utomo

Loveusaha Ayam bakar adalah salah satu makanan yang kerap kali kita jumpai di Indonesia. Beda halnya dengan Resto Ayam Bakar Pak “D”, depot yang satu ini ada inovasi unik untuk menarik pelanggan.

Erik Marsudi Utomo alumnus Manajemen Unair sukses mengembangkan usaha kuliner Ayam Bakar Pak “D”. Apa inovasinya? “Nasi sepuasnya, Es teh sepuasnya”. 

Ia mulai memberanikan diri untuk berwirausaha sejak kuliah. Sebelum memilih dan focus terhadap resto miliknya, Erik pernah mengalami kegagalan dan demi kegagalan yang ia terima.

Ia sempat membuka bisnis pendidikan. Akan tetapi, tidak berhasil. Dengan dukungan dari lingkungan sekitar, Erik pun mencoba membuka resto. Sistem yang digunakan pun biasa hanya saja motivasi besar dalam mencapai Ridho Allah, suatu motivasi hidup yang luar biasa.

Baca juga : https://www.loveusaha.com/berita/muhammad-ikhlas-dengan-bisnis-aplikasi-peduli-indonesia/

Ayam Bakar Pak “D” sebelumnya dikenal sebagai Depot Pak “D”  merupakan restoran yang berdiri sejak 2008 cabang pertama di Tropodo (Sidoarjo), dengan menu andalan ayam bakar & ikan bakar.

Rasanya yang lezat dan unik segera mendapat tempat dihati masyarakat. Rasa ayam bakar & ikan bakar yang lezat dan dipadu dengan menu sepuasnya.

Suasana lesehan yang nyaman serta menyenangkan mendapat respon positif dari masyarakat. Dilengkapi dengan versi terbarunya Geprek & Remux’s Luar Biasa.

Sampai saat ini cabang outlet Ayam Bakar Pak “D” memiliki 30 cabang yang tersebar di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan 2 Cabang kemitraan lainnya cabang Purwokerto & Kotabaru Kalimantan Selatan, sehingga total cabang Ayam Bakar Pak “D” memiliki 32 cabang. Resto yang menawarkan menu sepuasnya.

Dan dengan harga yang terjangkau menjadi pilihan bagi masyarakat. Erik mengelola system manajemen restorannya dengan maksimal, Erik selalu berbagi cerita bagaimana kesulitannya dalam merawat karyawan dan mejaga ekstensi pelayanan restonya.

Dengan keyakinan yang kuat, ia menganggap bahwa hambatan adalah proses yang harus di lalui, dihadapi dan dinikmati. Karena hambatan bisa menjadi berat bila kita terlalu memikirkannya. (nn)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*