Kerajian Tas Etnik yang Tak Termakan Persaingan Global

tas etnik

 

Foto : Tas etnik macrame

Loveusaha – Membanjirnya barang konsumsi dari luar negeri memberikan imbas yang cukup telak kepada barang – barang buatan dalam negeri, salah satunya tas.

Masyarakat cenderung membeli dan mengkonsumsi produk dari luar negeri karena kesan gengsi dan mewah ketika memakan barang luar negeri.

Padahal, banyak produk Indonesia yang tidak kalah bagus dan berkualitas, salah satunya kerajinan tas dan tali dan dompet tali kur bernama Tuphed Macrame yang beralamat di Jl. Arif Margono x/ 1862 kota Malang.

Kita tahu saat ini Indonesia menjadi surga bagi produk-produk tas asing dari Cina yang dilabel dengan harga murah namun berkualitas. Padahal negeri ini bisa menjadi pusat perdagangan sendiri tanpa harus membeli produk dari luar negeri.

Indonesia kalah dalam bersaing di dunia perdagangan disebabkan karena kurangnya kesadaran masyarakat tentang pemakaian produk lokal yang banyak juga yang lebih berkualitas.

Adalah Nur Fitriana yang merupakan pemilik usaha kerajinan pembuatan tas dengan bahan tali kur yang masih tetap bertahan ditengah gempuran tas-tas dari luar negeri.

Meski dari sisi pembuatan tas buatannya sangat jauh berbeda. “Awal saya membuat tas ini dari diri sendiri sekedar menyalurkan hobby dan keinginan membuat tas sendiri. Selain itu tas buatan saya ini lebih awet dibanding tas dari bahan kulit atau sintetis. “

“Ditambah warna dan motifnya yang berwarna warni dan beragam sehingga lebih menarik,” terang Nur. Untuk memasarkan produknya Nur banyak menggunakan media sosial baik facebook maupun instagram dan marketplace yang banyak tersedia.

Diakuinya tantangan terbesar dalam membuat tas dan dompet tali kur adalah pengerjaannya yang cukup ‘njelimet’ dan memerlukan banyak waktu sehingga harus telaten. Dalam mengerjakan produknya Nur dibantu oleh dua orang karyawan untuk membuat pesanan- pesanan pelanggan agar tepat waktu.

“ Salah satu tantangan saya dalam membuat tas adalahmengajari orang atau karyawan yang susah-susah gampang karena tidak semua memiliki keahlian yang sama seperti saya,” jelasnya.

Diakui Nur kini meski persaingan usaha penjualan tas termasuk tas tali kur semakin gencar namun tas bikinannya selalu ada saja yang memesan karena nila seni dan bahannya yang berbeda dibanding tas yang dijual di pasaran. “

Selain itu ada banyak cerita yang sebenarnya enggan diungkapkannya yaitu ketika pelanggan minta dibikinkan cepat namun ketika tasnya sudah jadi malah bayarnya dengan tempo atau lambat.

“ Ya sering sedih ya kalo ada pelanggan sudah cepat-cepat kita bikinkan pesanannya tapi ternyata tidak langsung dibayar,” keluhnya, namun dibalik itu semua Nur terus semangat memasarkan produk kerajinan buatannya.

Karena banyak pula pelanggan yang sangat antusias dengan produk buatannya. dan tak peduli berapa harga tas dan langsung membayar karena mereka tahu sulitnya membuat dan menciptakan tas handmade.

Belum banyak prestasi yang diraih Nur selama menekuni bisnis pembuatan tas dan dompet tali kur, namun dia cukup berbangga hati ketika bisa membantu perekonomian tetangganya yang menjadi
karyawannya.

Kedepan Nur berharap bisa melebarkan saya usahanya dan menjual tasnya ke seluruh Indonesia hingga luar negeri, sehingga negara lain juga mengetahui dan menggunakan tas buatannya sekaligus melestarikan kerajinan tas tradisional.

Bagi Anda yang tertarik dengan usaha tas dan dompet tali kur bisa mengunjungi link media sosial Tuphed Macrame dengan alamat Facebook phiephid_alone@yahoo.co.id. Dan akun Instagram: Tuphed.macrame. (da)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*