Sukses Bisnis Keripik Jamur dari “Keluarga Jamur” di Pakisaji

Loveusaha – Potensi budidaya jamur di desa Genengan Pakisaji Kabupaten Malang telah cukup terkenal di kalangan petani Jamur. Beriklim tropis dengan suhu udara rata–rata minimun 24° C dan maksimum 32° C, Desa Genengan, Kecamatan Pakisaji merupakan daerah dimana beberapa warganya bekerja dengan mengembangkan usaha budidaya jamur tiram yang menjadi potensi unggulan desa, selain sebagai buruh pabrik dan petani. 

Salah satu pebisnis itu adalah Suhartini dan keluarganya yang banyak menggantungkan kehidupan ekonominya dari jamur. Mulai dari budidaya jamur, membuat keripik jamur hingga menciptakan aneka kuliner berbahan dasar jamur. Karena dikerjakan dengan sungguh-sungguh, usaha mereka kini berkembang pesat. Tak salah jika keluarga ini dikenal sebagai “keluarga jamur”.

Bagi Suhartini bergelut dengan jamur sudah menjadi kesehariannya, sebelum mengolahnya menjadi keripik dirinya telah melakukan budidaya jamur di samping halaman rumahnya di daerah Pakisaji. Namun ketika itu dirinya menemukan kendala pasca panen dan pemasaran karena jamurnya yang tidak terserap pasar sepenuhnya, panenan kurang bagus atau harga jual terlalu rendah sehingga ongkos produksi mepet.

“ Kadang misalkan panen jamur kami bagus pun kadang pedagang yang beli tidak mau semua paling banyak setengahnya padahal jamur ini kan ga bisa tanah lama umurnya dan telat panen beberapa hari saja bisa jadi barang afkir dan ga laku di dijual,” keluh Suhartini kala itu.

Berbekal pengalaman inilah Suhartini berusaha berinovasi agar jamurnya bisa sepenuhnya terserap pasar dan tidak terbuang. Wanita yang akrab disapa Bu Har ini kemudian mengolah jamurnya menjadi sesuatu yang lebih bernilai ekonomis tinggi dengan masa konsumsi yang lebih panjang. Bersama dengan suaminya Bu Har kemudian mengolahnya menjadi keripik jamur.

Awalnya Suhartini harus berkali-kali mencoba resep keripik jamur agar komposisinya pas dan rasanya lezat dengan bentuk yang menarik tentunya. Namun setelah tercipta keripik yang lezat dia mulai bingung karena usahanya belum memiliki ijin Produk Industri Usaha Rumahan (PRIT), agar bisa memasarkan keripik jamurnya ke toko-toko besar.

Suhartini kemudian mengurus ijin PIRT berbekal keanggotannya di rumah Pengusaha Malang Raya (RPMR) sebuah paguyuban industri kecil di Malang yang mewadahi UMKM. Hingga akhirnya keripik jamurnya mulai bisa dipasarkan di toko-toko oleh-oleh di Malang Raya. Untuk terus mengembangkan usahanya Suhartini juga mengurus ijin BPOM.

Bahkan kini keripik jamurnya mulai merambah ke Sidoarjo dan Surabaya. Puncak penjualan keripik jamurnya biasanya terjadi ketika Romadhon hingga lebaran hingga omzetnya naik berkali-kali lipat.Bersama dengan Sugito suaminya yang juga mantan purnawirawan TNI AL, Suhartini bahu membahu mengembangkan keripik jamurnya ke berbagai kota. Meski melelahkan keduanya bersyukur karena usaha yang mereka rintis menunjukkan hasil yang memuaskan.

Tak puas dengan produksi keripik jamur yang sukses, industri rumahan berbendera Cahaya Putra Jaya ini juga memproduksi keripik usus dan keripik pare. Kalau biasanya pare rasanya pahit ditangan mereka keripik pare menjadi panganan yang gurih dan renyah, tak heran keripik ini juga mengikuti keripik jamurnya yang mendulang sukses.

Kesuksesan Bu Har inilah yang mendorong anak perempuannya mengikuti bisnis kedua orang tuanya dengan berbisnis macam-macam kuliner dari bahan baku jamur. Ada tahu jamur, rendang jamur, bakso jamur, lumpia jamur dan nugget jamur. Sementara anak laki-lakinya juga mempunyai usaha budidaya jamur yang cukup besar di daerah Ponco Kusumo dan menjadi cadangan pemasok bahan baku bagi usaha Cahaya Putra Jaya.

Anda tertarik mencicipi keripik jamur Bu Har bisa mengunjungi alamat usahanya di Jln.Masjid Arojidin Gg 7B Genengan Pakisaji. “Harapan kami kedepan pesanan bisa makin banyak, usaha lancar dan pasar memadai.”Sukses Bisnis Keripik Jamur dari “Keluarga Jamur” di pakisaji. (da)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*