Usaha Gudeg Ceker Margoyudan, Sejak Tahun 1970

Loveusaha – Orang-orang itu, baik yang nongkrong di atas sepeda motor maupun yang di dalam mobil memang tengah menunggu Bu Kasno duduk di belakang dagangannya, Gudeg Ceker Margoyudan yang amat terkenal itu. Meski dagangan sudah tergelar dan tampaknya semuanya sudah siap, jangan harap segera dilayani kalu Bu Kasno duduk manis di situ.

Menjadi pertanyaan, mengapa orang-orang itu rela antri menunggu di pinggir jalan, diterpa angina dingin, bahkan kadang-kadang ditemani rinai hujan. Jawabannya adalah untuk menikmati sepiring gudeg dengan pelengkap ceker ayam yang tak hanya dikenal oleh orang Solo, tapi juga orang dari kota-kota lain yang pernah berkunjung ke Solo.

Warung kaki lima yang menggelar dagangan tepat pukul 01.30, saat orang-orang sebenarnya masih dibuai mimpi ini dikenal sebagai warung gudeg ceker karena menu spesialnya adalah gudeg dengan pelengkap ceker (kaki ayam). Orang juga biasa menyebut Warung Gudeg Margoyudan karena berdiri di atas trotoar Jalan Wolter Monginsidi, Margoyudan, tepat di sebelah kanan Gereja Kristen Jawa Margoyudan.

Baca juga : https://www.loveusaha.com/resep-kekinian/cara-gampang-membuat-kastengel-tanpa-oven/

Bu Kasno (64 tahun) pendiri warung sejak tahun 1970 ini sebenranya tak hanya menyediakan gudeg ceker karena ada juga bubur lemu dan opor ayam kampung. Tapi tetap saja menu andalannya adalah gudeg ceker. Pengorbanan para pelanggan yang antri sejak tengah malam melawan kantuk dan dingin akan segera terbayar begitu sepiring nasi gudeg terhidang di hadapannya. Gudegnya terasa demikian gurih dengan siraman santan kanil (santan yang dimasak kental) dan beberapa potong sambal goreng rambak.

Di luar itu, yang pasti ditunggu pelanggan adalah ceker yang dimasak dalam kuah santan. Keistimewaan ceker ini adalah dengan sedikit kunyahan dagingnya seperti langsung terpisah dari tulang-tulangnya. Klunyum-klunyum, begitu Orang Jawa menyebut. Maka daging ceker dengan tekstur khas yang gurih itu pun akan memuaskan rasa penasaran orang yang pertama kali datang menikmatinya.

Keistimewaan gudeg ceker Margoyudan pun dinikmati orang-orang dari berbagai golongan, dari sopir-sopir taksi untuk mengisi perut saat tugas oada malam hari hingga pagi sampai presiden. Tentu adalah kebanggan tersendiri bagi Bu Kasno, tiga presiden negeri ini pernah menikmati hasil olahannya, yakni Soeharto, Abdurrachman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri.

Melihat plat-plat mobil yang parker di sekitarnya, kelihatan pengunjung dari luar kota justru yang mendominasi warung ini. Mereka adalah wisatawan atau karyawan yang sedang mengadakan seminar di Solo. Mereka mendapat informasi adanya warung ini dari hotel atau dijamu relasi. Bagi orang-orang tersebut, menikmati gurihnya gudeg ceker pada dini hari yang dingin dan harus melawan kantuk boleh jadi merupakan sensasi tersendiri yang tak bakal ditemui di kota-kota lain.

Tak hanya dinikmati orang-orang di Indonesia, gudeg ceker Bu Kasno sempat melanglang ke luar negeri. Ceritanya, salah satu anaknya yang menempuh pendidikan S2 di Prancis membawa sang ibu ke Negara itu untuk memasak gudeg ceker buat teman-temannya.

Itulah gudeg ceker, meski hanya kaki lima di trotoar, masakan ini telah menghidupi Bu Kasno dan keluarganya. Sejak ditinggal berpulang suaminya tahun 1980, Bu Kasno menghidupi dan menyekolahkan lima anaknya sampai jenjang sarjana dari usaha ini. Ia menolak menjawab berapa omset per harinya. “Yang penting bisa untuk sekolah anak-anak,” jawabnya. Meski demikian kita bisa meraba berapa omset harian warung ini karena setiap hari Bu Kasno menghabiskan sekitar 1. 000 ceker ayam, 30 ekor ayam potong, dan 15 kg telur. Pada hari-hari libur jumlahnya lebih besar lagi karena pengunjung pun bertambah banyak. (n5)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*