Eka Tjipta Wijaya, Konglomerat Kelas Kakap di Asia

Loveusaha – “Kami berlayar tujuh hari tujuh malam. Lantaran miskin, kami hanya bisa tidur di tempat paling buruk di kapal, di bawah kelas dek. Mau makan masakan enak, tak mampu. “

“Ada uang lima dollar, tetapi tak bisa dibelanjakan. Karena, untuk ke Indonesia saja kami masih berutang pada rentenir, 150 dollar.” Ungkap Eka Tjipta Wijaya saat berangkat ke Makassar bersama ibunya untuk menyusul ayahnya yang sudah tiba lebih dulu. Saat itu, Eka masih berusia 13 tahun.

Tetapi, siapa yang mengira jika pada akhirnya Eka menjadi konglomerat yang memiliki hampir 200 perusahaan dengan 70 ribu karyawan.

Eka Tjipta Wijaya yang nama aslinya Oei Ek Tjhong, lahir pada 3 Oktober 1923. Pada tahun 1932, Eka tinggal di Makasar. Di sana, Eka membantu sang ayah bekerja di toko kecil miliknya.

Ayahnya berharap segera bisa membayar utangnya kepada rentenir. Dua tahun kemudian, utang itu terbayar, dan toko ayahnya semakin maju. Eka pun minta disekolahkan.

Tetapi setamatnya SD, Eka tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Karena persoalan ekonomi, ia terpaksa berjualan keliling kota Makassar, menjajakan biskuit dan kembang gula.

Hanya dua bulan, ia bisa meraup untung Rp20 (jumlah yang besar untuk masa itu).  Melihat usahanya berkembang, Eka membeli becak untuk mengangkut barangnya.

Saat usahanya mulai berkembang, kehadiran Jepang menjadi boomerang bagi usaha Eka. Usahanya hancur, dan ia pun menjadi pengangguran. Keuntungan Rp2.000 yang ia kumpulkan selama beberapa tahun, habis dibuat makan sehari-hari.

Dalam kondisi perang, suplai bahan bangunan dan barang keperluan sehari-hari memang sangat kurang. Untuk itulah, barang-barang yang ia peroleh dari puing-puing menjadi sangat berharga.

Terigu misalnya, semula dijual Rp50 per karung, lalu dinaikkan menjadi Rp60, dan akhirnya Rp150. Sedangkan semen dijual Rp20 per karung, kemudian Rp40.

Baca juga : https://www.loveusaha.com/jendela-usaha/soto-ayam-madura-jalan-juanda-sejak-tahun-1980/

Setelah itu, ia berdagang kopra. Ia pun berlayar berhari-hari ke Selayar (Selatan Sulawesi Selatan) untuk memperoleh kopra yang murah.

Usahanya baru benar-benar melesat dan tak pernah jatuh lagi setelah masuk masa Orde Baru. Era Orde Baru, menurut Eka dapat memberi kesejukan bagi pengusaha.

Pria bertangan dingin ini mampu membenahi aneka usaha yang semula tidak berarti, menjadi berarti. Bisnis Eka mulai menanjak. Dari bisnis kertas, perbankan, perkebunan dan pabrik kelapa sawit, perkebunan teh, sampai bisnis properti.

Setelah 58 tahun berbisnis dan bergelar konglomerat, perusahaan yang dimilikinya sekarang di antaranya pabrik kertas Tjiwi Kimia, perkebunan dan pabrik kelapa sawit di Riau, perkebunan dan pabrik the, Bank Internasional Indonesia (BII), pabrik pulp dan kertas PT. Indah Kiat, ITC Mangga Dua, ruko, apartemen Green View di Roxy, dan Ambassador di Kuningan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*